Skip to main content

Tidak Sebercanda Itu

Saya mungkin termasuk orang yang cukup periang dan bisa dibilang juga mampu membawa dampak positif bagi orang-orang disekitar saya. (Terlalu pede? Biar saja, setidaknya saya meyakini itu sebagai kelebihan dari diri saya)

Terkadang, dengan berbagai banyolan dan lelucon yang saya lontarkan, bisa membuat sekitar saya mengeluarkan sedikit senyuman bahkan tawa senang.

Merupakan kebahagiaan tersendiri melihat banyak senyum terpancar dari wajah-wajah orang yang saya taruh simpati. Kadang saya juga bisa membuat hari buruk seseorang menjadi hari baik baginya.

Tapi, bagaimanapun juga saya bisa membuat orang berbahagia, saya pun juga manusia. Saya punya sentimentil tersendiri yang tidak bisa digeneralisasikan dengan banyak orang.

Bercanda ada batas, untuk menjaga perasaan yang tersembunyi. Kala beberapa orang menganggap remeh pengetahuan saya ketika hanya "kekonyolan" yang saya tampilkan, memanggil saya dengan suatu sebutan yang menurut saya itu adalah bagian dari ekspresi hati, bahkan menyebut saya lemah karena tak dapat melakukan berbagai aktivitas, yang mana saya tahu kadar fisik saya sendiri.

Perasaan-perasaan yang tidak sesuai dengan diri dan membuat saya tidak nyaman, dengan gampangnya mereka melontarkan kata-kata "Baper". Kalian tidak pernah tahu isi hati saya dan orang lain. Menurut kalian mungkin ini bisa dijadikan tawa renyah, tapi mungkin bagi saya kalian menyentuh hati saya yang terlemah.

Saya tidak marah, apalagi "Baper" yang sering kalian sebut, tidak ada hak bagi saya seorang badut kalian.

Saya hanya bercerita, karena saya tidak sebercanda itu.

Comments

Popular posts from this blog

Telinga Yang Tak Pernah Lelah Mendengar

Ketika lidahku tidak bisa ku redam, keluhku, resahku, khawatirku, ada telinga yang siap mendengar setiap saat. Aku tahu, ada kalanya telinga itu lelah mendengar, lelah menangkap kata-kata ku, lelah berpaku pada keluhku. Terkadang aku hanya mau ditenangkan dan dipeluk, tapi aku sadar sabar mu ada batasnya, nasihatmu ada titiknya yang mengharuskan ku menata hatiku sendiri bagaimana aku bisa mengolah perasaanku. Selain telinga mu, aku juga punya tempat mengadu dan berkeluh yang lebih besar kuasanya. Aku punya Tuhan. Walaupun terkadang, aku sebagai manusia yang seperti tidak tahu diri, hanya mengeluh, berkeluh dan berpeluh, tapi dibalik itu, aku selalu berusaha menyematkan syukurku, terimakasihku, dan sukacita ku.  Memang, hanya keluhku yang aku lihatkan, namun sebenarnya dalam hatiku yang terdalam aku selalu berusaha mengucap syukur dan bahagiaku. Tolong, jangan pernah lelah mendengarku, walau aku tahu semua itu ada batasnya.

Nafas Baru

Hai, sudah lama tidak bercerita disini. Banyak momen yang terlewat, tapi masih lekat diingatan. Salah satu momen hidup saya yang akan diceritakan adalah hadirnya nafas baru di dunia ini. Tepatnya tanggal 25 Agustus 2020 malam,  firasat saya sebagai calon ibu yang sudah mengandung di bulan ke 9 berkata bahwa mungkin sebentar lagi akan menjalani proses lahiran. Bingung. Awalnya, saya penasaran bagaimana rasanya kontraksi. Banyak yang berkata bahwa kontraksi hampir sama rasanya dengan menstruasi, sakit. Namun pada diri saya, selama saya menstruasi tidak pernah merasakan sakit sedikitpun, ya bahkan saya tetap berolahraga atau fitness pada saat masih lajang kala itu. Akhirnya, saya memberanikan diri bertanya pada dokter kandungan saya kira-kira apalagi tanda selain rasa sakit diperut yang menandakan bahwa hari kelahiran sudah mendekati waktunya. Deg. Saya langsung terpana dengan jawaban dokter kandungan saat itu. Ia berkata bahwa sesekali perut akan mengeras dan dalam jangka waktu yang ...

HARUSKAH?

Haruskah saya menjabarkan nasib saya hari ini? Haha, mungkin seharusnya memang saya ceritakan kisah pilu ini. Ketika saya dihadapkan terhadap dua pilihan yang sulit untuk diputuskan. Kekasih dan Sahabat. Pikiran awam saya mengatakan bahwa keduanya ini dapat berjalan beriringan. Namun pada kenyatannya, entah, mungkin ini kenyataan yang saya hadapi, saya harus memilih salah satu dari dua orang terbaik saya. 1 kekasih yang begitu luar biasa memiliki kesabaran menghadapi saya, yang bahkan dirinya pun menyebut saya "aneh". Suka-duka juga saya dan kekasih telah lewati, saya tidak pernah menganggap sebuah "materi" itu penting. Tidak dipungkiri kebutuhan manusia saat ini dinilai dengan uang, namun saya tidak mempermasalahkan hal ini ketika saya harus membagi makanan saya dengannya atau berbagi rokok ketika keduanya tidak mempunyai uang. Menurut saya itu seni, seni dari sebuah perjalanan saling mencintai.  Namun masih ada sisa luka di hati, ketika amarah yang ia luapkan ...