Skip to main content

Dimulai dari Kopi

Sore itu, saya memberanikan diri dan mengalahkan ego sebagai perempuan.

Ya, mengajakmu yang baru beberapa hari saya kenal untuk bertemu dan berbincang di sebuah kedai kopi. Saya tidak banyak berharap saat itu kamu mau menerima ajakan saya.

Entah angin apa menyelimuti pikiranmu, sehingga kamu bersedia meluangkan detikmu untuk menemui sosok asing ini.

Saya datang lebih dulu, menunggu mu dengan secangkir kopi andalan kedai itu. Mempersiapkan diri dengan bahan obrolan dan hati yang tidak karuan. Teguk demi teguk kopi itu saya nikmati, mengalir meluruhkan rasa khawatir dalam diri, dan ketika itu kamu datang.

Dengan senyum asing yang baru saya lihat, kamu lemparkan dengan tulus. Duduk tepat disamping saya, menunggu kopi mu datang dan bermain ponsel entah untuk mengabari  siapa. Saat itu, saya belum menjadi siapa-siapa.

Memulai pembicaraan dengan perkenalan diri mendalam, hingga bercerita tentang hobi mu dan saya, ada kemiripan namun juga ada perbedaan. Membalas kata hingga lupa fakta. Fakta bahwa langit semakin gelap, dan kita memutuskan untuk kembali meninggalkan 2 cangkir kopi penghantar kata. Kamu menemani pulang dengan motor, saya sebenarnya ingin sekali memelukmu dari belakang, tapi tertahan karena kala itu kita hanya sebatas dua orang asing.

Seusai kopi, saya menyadari, bahwa akan ada lebih banyak cerita antara saya dan kamu, yang pada akhirnya terikat cincin di jemari mu dan saya, dan kamu adalah sosok yang berhasil membuat cerita indah yang dimulai dari kopi.

Comments

Popular posts from this blog

Telinga Yang Tak Pernah Lelah Mendengar

Ketika lidahku tidak bisa ku redam, keluhku, resahku, khawatirku, ada telinga yang siap mendengar setiap saat. Aku tahu, ada kalanya telinga itu lelah mendengar, lelah menangkap kata-kata ku, lelah berpaku pada keluhku. Terkadang aku hanya mau ditenangkan dan dipeluk, tapi aku sadar sabar mu ada batasnya, nasihatmu ada titiknya yang mengharuskan ku menata hatiku sendiri bagaimana aku bisa mengolah perasaanku. Selain telinga mu, aku juga punya tempat mengadu dan berkeluh yang lebih besar kuasanya. Aku punya Tuhan. Walaupun terkadang, aku sebagai manusia yang seperti tidak tahu diri, hanya mengeluh, berkeluh dan berpeluh, tapi dibalik itu, aku selalu berusaha menyematkan syukurku, terimakasihku, dan sukacita ku.  Memang, hanya keluhku yang aku lihatkan, namun sebenarnya dalam hatiku yang terdalam aku selalu berusaha mengucap syukur dan bahagiaku. Tolong, jangan pernah lelah mendengarku, walau aku tahu semua itu ada batasnya.

Nafas Baru

Hai, sudah lama tidak bercerita disini. Banyak momen yang terlewat, tapi masih lekat diingatan. Salah satu momen hidup saya yang akan diceritakan adalah hadirnya nafas baru di dunia ini. Tepatnya tanggal 25 Agustus 2020 malam,  firasat saya sebagai calon ibu yang sudah mengandung di bulan ke 9 berkata bahwa mungkin sebentar lagi akan menjalani proses lahiran. Bingung. Awalnya, saya penasaran bagaimana rasanya kontraksi. Banyak yang berkata bahwa kontraksi hampir sama rasanya dengan menstruasi, sakit. Namun pada diri saya, selama saya menstruasi tidak pernah merasakan sakit sedikitpun, ya bahkan saya tetap berolahraga atau fitness pada saat masih lajang kala itu. Akhirnya, saya memberanikan diri bertanya pada dokter kandungan saya kira-kira apalagi tanda selain rasa sakit diperut yang menandakan bahwa hari kelahiran sudah mendekati waktunya. Deg. Saya langsung terpana dengan jawaban dokter kandungan saat itu. Ia berkata bahwa sesekali perut akan mengeras dan dalam jangka waktu yang ...

HARUSKAH?

Haruskah saya menjabarkan nasib saya hari ini? Haha, mungkin seharusnya memang saya ceritakan kisah pilu ini. Ketika saya dihadapkan terhadap dua pilihan yang sulit untuk diputuskan. Kekasih dan Sahabat. Pikiran awam saya mengatakan bahwa keduanya ini dapat berjalan beriringan. Namun pada kenyatannya, entah, mungkin ini kenyataan yang saya hadapi, saya harus memilih salah satu dari dua orang terbaik saya. 1 kekasih yang begitu luar biasa memiliki kesabaran menghadapi saya, yang bahkan dirinya pun menyebut saya "aneh". Suka-duka juga saya dan kekasih telah lewati, saya tidak pernah menganggap sebuah "materi" itu penting. Tidak dipungkiri kebutuhan manusia saat ini dinilai dengan uang, namun saya tidak mempermasalahkan hal ini ketika saya harus membagi makanan saya dengannya atau berbagi rokok ketika keduanya tidak mempunyai uang. Menurut saya itu seni, seni dari sebuah perjalanan saling mencintai.  Namun masih ada sisa luka di hati, ketika amarah yang ia luapkan ...