Sore itu, saya memberanikan diri dan mengalahkan ego sebagai perempuan.
Ya, mengajakmu yang baru beberapa hari saya kenal untuk bertemu dan berbincang di sebuah kedai kopi. Saya tidak banyak berharap saat itu kamu mau menerima ajakan saya.
Entah angin apa menyelimuti pikiranmu, sehingga kamu bersedia meluangkan detikmu untuk menemui sosok asing ini.
Saya datang lebih dulu, menunggu mu dengan secangkir kopi andalan kedai itu. Mempersiapkan diri dengan bahan obrolan dan hati yang tidak karuan. Teguk demi teguk kopi itu saya nikmati, mengalir meluruhkan rasa khawatir dalam diri, dan ketika itu kamu datang.
Dengan senyum asing yang baru saya lihat, kamu lemparkan dengan tulus. Duduk tepat disamping saya, menunggu kopi mu datang dan bermain ponsel entah untuk mengabari siapa. Saat itu, saya belum menjadi siapa-siapa.
Memulai pembicaraan dengan perkenalan diri mendalam, hingga bercerita tentang hobi mu dan saya, ada kemiripan namun juga ada perbedaan. Membalas kata hingga lupa fakta. Fakta bahwa langit semakin gelap, dan kita memutuskan untuk kembali meninggalkan 2 cangkir kopi penghantar kata. Kamu menemani pulang dengan motor, saya sebenarnya ingin sekali memelukmu dari belakang, tapi tertahan karena kala itu kita hanya sebatas dua orang asing.
Seusai kopi, saya menyadari, bahwa akan ada lebih banyak cerita antara saya dan kamu, yang pada akhirnya terikat cincin di jemari mu dan saya, dan kamu adalah sosok yang berhasil membuat cerita indah yang dimulai dari kopi.
Ya, mengajakmu yang baru beberapa hari saya kenal untuk bertemu dan berbincang di sebuah kedai kopi. Saya tidak banyak berharap saat itu kamu mau menerima ajakan saya.
Entah angin apa menyelimuti pikiranmu, sehingga kamu bersedia meluangkan detikmu untuk menemui sosok asing ini.
Saya datang lebih dulu, menunggu mu dengan secangkir kopi andalan kedai itu. Mempersiapkan diri dengan bahan obrolan dan hati yang tidak karuan. Teguk demi teguk kopi itu saya nikmati, mengalir meluruhkan rasa khawatir dalam diri, dan ketika itu kamu datang.
Dengan senyum asing yang baru saya lihat, kamu lemparkan dengan tulus. Duduk tepat disamping saya, menunggu kopi mu datang dan bermain ponsel entah untuk mengabari siapa. Saat itu, saya belum menjadi siapa-siapa.
Memulai pembicaraan dengan perkenalan diri mendalam, hingga bercerita tentang hobi mu dan saya, ada kemiripan namun juga ada perbedaan. Membalas kata hingga lupa fakta. Fakta bahwa langit semakin gelap, dan kita memutuskan untuk kembali meninggalkan 2 cangkir kopi penghantar kata. Kamu menemani pulang dengan motor, saya sebenarnya ingin sekali memelukmu dari belakang, tapi tertahan karena kala itu kita hanya sebatas dua orang asing.
Seusai kopi, saya menyadari, bahwa akan ada lebih banyak cerita antara saya dan kamu, yang pada akhirnya terikat cincin di jemari mu dan saya, dan kamu adalah sosok yang berhasil membuat cerita indah yang dimulai dari kopi.
Comments
Post a Comment