Skip to main content

Antara Jarak, Saya dan Kamu

Entah apa yang segalanya membuat jadi rumit.

Ketika saya ingin merengkuhmu, raga itu tidak ada.
Saat saya ingin membelai rambutmu, tangan saya hanya menggapai kekosongan.
Bahkan, ketika saya ingin menciummu penuh cinta, itu hanya menjadi mimpi indah saat mata terpejam. 

Mengapa? Apa yang membuatnya jadi sebegitu rumit hingga saya tak bisa menggapaimu seolah-olah dirimu hanya fantasi belaka?
Jujur, saya tidak ingin rasa rindu yang menggebu ini haya menjadi percakapan hangat diantara kita melalui telepon genggam. 

Rupanya kamu, Jarak.

Yang menjadi alasan mengapa saya tak bisa menyentuh halus dirinya. 
Yang menjadi alasan mengapa saya tak lagi bisa bermanja di pangkuannya. 

Jarak yang membuat kita menjauh. 

Jarak yang menjadi alasan mengapa dirimu hanya menjadi sebatas fantasi ketika kamu tidak ada disamping raga ini. 
Jarak yang membuat pikiran melayang entah kemana, ingin berkata rindu namun berat. 

Semua kata yang ingin diucap hanya tertahan sampai penghujung malam. Hingga akhirnya saya dan kamu tertidur dalam buaian, menahan rindu bersama. 

Malam menjadi tumpuan hari saya ketika akhirnya saya memanjatkan doa kepada Jarak. 

"Semoga di antara jarak, saya, dan kamu, akan tetap terus terselip cinta yang tidak pernah terputus."


Comments

Popular posts from this blog

Telinga Yang Tak Pernah Lelah Mendengar

Ketika lidahku tidak bisa ku redam, keluhku, resahku, khawatirku, ada telinga yang siap mendengar setiap saat. Aku tahu, ada kalanya telinga itu lelah mendengar, lelah menangkap kata-kata ku, lelah berpaku pada keluhku. Terkadang aku hanya mau ditenangkan dan dipeluk, tapi aku sadar sabar mu ada batasnya, nasihatmu ada titiknya yang mengharuskan ku menata hatiku sendiri bagaimana aku bisa mengolah perasaanku. Selain telinga mu, aku juga punya tempat mengadu dan berkeluh yang lebih besar kuasanya. Aku punya Tuhan. Walaupun terkadang, aku sebagai manusia yang seperti tidak tahu diri, hanya mengeluh, berkeluh dan berpeluh, tapi dibalik itu, aku selalu berusaha menyematkan syukurku, terimakasihku, dan sukacita ku.  Memang, hanya keluhku yang aku lihatkan, namun sebenarnya dalam hatiku yang terdalam aku selalu berusaha mengucap syukur dan bahagiaku. Tolong, jangan pernah lelah mendengarku, walau aku tahu semua itu ada batasnya.

Nafas Baru

Hai, sudah lama tidak bercerita disini. Banyak momen yang terlewat, tapi masih lekat diingatan. Salah satu momen hidup saya yang akan diceritakan adalah hadirnya nafas baru di dunia ini. Tepatnya tanggal 25 Agustus 2020 malam,  firasat saya sebagai calon ibu yang sudah mengandung di bulan ke 9 berkata bahwa mungkin sebentar lagi akan menjalani proses lahiran. Bingung. Awalnya, saya penasaran bagaimana rasanya kontraksi. Banyak yang berkata bahwa kontraksi hampir sama rasanya dengan menstruasi, sakit. Namun pada diri saya, selama saya menstruasi tidak pernah merasakan sakit sedikitpun, ya bahkan saya tetap berolahraga atau fitness pada saat masih lajang kala itu. Akhirnya, saya memberanikan diri bertanya pada dokter kandungan saya kira-kira apalagi tanda selain rasa sakit diperut yang menandakan bahwa hari kelahiran sudah mendekati waktunya. Deg. Saya langsung terpana dengan jawaban dokter kandungan saat itu. Ia berkata bahwa sesekali perut akan mengeras dan dalam jangka waktu yang ...

HARUSKAH?

Haruskah saya menjabarkan nasib saya hari ini? Haha, mungkin seharusnya memang saya ceritakan kisah pilu ini. Ketika saya dihadapkan terhadap dua pilihan yang sulit untuk diputuskan. Kekasih dan Sahabat. Pikiran awam saya mengatakan bahwa keduanya ini dapat berjalan beriringan. Namun pada kenyatannya, entah, mungkin ini kenyataan yang saya hadapi, saya harus memilih salah satu dari dua orang terbaik saya. 1 kekasih yang begitu luar biasa memiliki kesabaran menghadapi saya, yang bahkan dirinya pun menyebut saya "aneh". Suka-duka juga saya dan kekasih telah lewati, saya tidak pernah menganggap sebuah "materi" itu penting. Tidak dipungkiri kebutuhan manusia saat ini dinilai dengan uang, namun saya tidak mempermasalahkan hal ini ketika saya harus membagi makanan saya dengannya atau berbagi rokok ketika keduanya tidak mempunyai uang. Menurut saya itu seni, seni dari sebuah perjalanan saling mencintai.  Namun masih ada sisa luka di hati, ketika amarah yang ia luapkan ...